Monday, November 26, 2007

Urbana-Champaign, Catatan Perjalanan (1)

Chicago, 27 April 2004

Duduk 12 jam di kelas ekonomi yang sempit dalam kabin pesawat JAL nomor penerbangan JL.10M, setelah tinggal landas kemarin siang pukul 11.45 dari Narita menempuh jarak 10.089 km cukup membuat penat pinggang dan kaki. Saya mencoba menyiasati mengusir rasa bosan dengan mengobrol dengan Sophie Laurent, sekitar 30-an, yang duduk di samping kanan saya. Reporter sebuah radio di Kanada itu baru saja melakukan lawatan ke Thailand, cukup asyik mendengar pandangan dan pengalamannya di dunia broadcasting. Sekitar 20 menit sebelum mendarat, dari jendela pesawat, langit Chicago bersimbah cerah biru muda mengantarkan panorama kota Al-Capone dan danau Great Lakes di bawah sana.

Roda pesawat menyentuh landasan bandar udara O’Hare pada pukul 10.15. Dua puluhan menit kemudian saya ikut antrian panjang untuk pemeriksaan imigrasi setelah mengisi form disambarkasi. Setelah pemeriksaan oleh petugas imigrasi yang berwajah penuh curiga, buah paranoid pasca tragedi 11 September 2001, saya mengambil koper lalu keluar dari ruang kedatangan.

Di luar, Aco (anak ketiga saya dari lima bersaudara) telah lama menunggu. “Kenapa lama Pak?” tanyanya. “Ada sedikit masalah dengan imigrasi.” Jawabku. Kami bergegas ke tempat parkir. Camry tua tapi masih kondisi lumayan itu perlahan meninggalkan pelataran parkir keluar dari area bandara. Berputar sejenak melihat-lihat kota Chicago, lalu keluar mengambil I-57 (interstate nomor 57) ke arah Urbana-Champaign. Untuk mencapai kota-kembar-kecil itu diperlukan waktu tiga setengah jam. Ia terletak 250 km sebelah selatan Chicago, 216 km sebelah barat Indianapolis dan 306 km utara-timur-laut St.Louis.

Rembang petang ketika kami memasuki Champaign, setelah mampir makan di sebuah warung milik orang Korea, kami ke tempat tinggal Aco. Ia menghuni salah satu unit di lantai 2 di sebuah apartemen sederhana yang terletak di sudut persimpangan Fifth St dan Green St. Dalam hati saya bergumam, perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan-perjalanan (dinas) sebelumnya dengan segala fasilitas, tidur di hotel dan dibekali per diem allowance US 220 per hari.

Champaign, 28 April 2004
Dingin seperti tak mau beranjak di pagi ini pada hal sudah masuk musim semi. Keluar dari apartemen, menyusuri trotoar di tepi Green St. ke arah utara, ketika melangkah memasuki halaman kampus, mata saya tertuju ke patung Alma Mater yang menghadap ke persimpangan Green dan Wright. Melewati patung itu berbelok ke arah selatan, saya masuk ke sebuah gedung bernama Altgeld Hall yang di atas pintu masuknya ada tulisan Mathematics. Di dalam gedung itu ada kantor pos. Keluar dari gedung itu, saya menuju ke gedung di sebelah kiri yang disebut Illini Union yang menyediakan fasilitas ruang publik, ruang pertemuan, ruang kuliah dan ujian, perpustakaan dan toko buku, kafe, restoran dan hotel. Di dalam gedung itu saya menghabiskan waktu, sementara Aco sibuk dengan beragam tugas yang harus ia selesaikan.

Urbana-Champaign, 29 – 30 April 2004
Untuk lebih mengenal sekolahnya Aco, hari kedua dan ketiga, saya gunakan untuk melakukan “pengamatan” lingkungan kampus tua itu. University of Illinois didirikan pada tahun 1867. Kampus berdiri di atas lahan seluas 1.454 acre (setara dengan 5,6 km2 ). University of Illinois at Urbana-Champaign yang biasa disingkat UIUC membawahi 16 colleges dengan jumlah mahasiswa 38.000 terdiri atas 10.000 mahasiswa graduate dan 28.000 under-graduate.
Beberapa tempat saya catat. Di depan Union (gedung dimana saya menghabiskan waktu pada hari pertama) ada lapangan rumput yang dinamai Main Quad yang dikelilingi gedung-gedung. Sebelah kanan, kalau kita membelakangi Union, terdapat Henry Administration Building, English Building dan Lincoln Hall. Di sebelah kanan ada Noyes Lab, Chemistry Annex, Devenport Hall dan Foreign Language Building. Di antara Main Quad di sebelah utara Union ada Foellinger Auditorium dan melewati bangunan ini, kita temukan Undergraduate Library (di bawah tanah) dan lahan pembibitan Morrow Plots yang dikelola sejak 1876. Di seberang jalan setelah Morrow Plots berdiri Mumford Hall. Di lantai 4 gedung itu Aco menempati sebuah ruang kantor, fasilitas yang disediakan universitas bagi asisten peneliti.

Urbana – Niagara, 1 – 8 Mei 2004
Masih dua minggu lagi commencement processional baru diadakan. Berarti ada kesempatan untuk melakukan perjalanan ke beberapa kota atau negara bagian. Sehari sebelum berangkat Aco mempertimbangkan dua pilihan, menggunakan mobilnya sendiri atau menyewa. Dua pilihan itu masing-masing ada plus-minusnya. Kalau memakai mobil sendiri menempuh perjalanan jauh pastilah lebih ekonomis, tetapi kalau ada masalah di jalan, ongkos bisa lebih besar. Selain itu sebelum pulang ke Jakarta, rencana Aco menjual camry tuanya, berarti kondisinya harus bagus. Kalau menggunakan mobil sewa, biayanya relatif mahal tetapi aman dari segala risiko yang mungkin timbul. Akhirnya Aco memutuskan menyewa saja. Kami ke tempat penyewaan mobil. Aco memilih sebuah Jeep Cherokee yang masih baru.

Sabtu, 1 Mei 2004
Selepas salat magrib dijama’ isya, pukul 8 p.m. berangkat dari Champaign. Melewati Indianapolis dan mengisi bahan bakar di Richmond. Sampai di Colombus pukul 1.09 a.m. (Minggu, 2 Mei 2004). Setelah salat subuh di Belmont, perjalanan dilanjutkan. Melewati perbatasan Ohio-Virginia, Union, Cumberland, Pittsburgh. Tiba di Washington DC (lebih kerap disebut DC saja) pukul 11.05 a.m.

DC, 3 - 4 Mei 2004
Di Ibu Kota Amerika Serikat ini, kami mengunjungi tempat kediaman Widodo Barokah, kawan Aco yang sebelumnya tinggal di Urbana. Widodo dan istri mempunyai 2 anak, menghuni sebuah unit yang lumayan luas di apartemen yang relatif bagus. Letaknya di S. Court House Rd, Arlington VA, Pentagon City. Sebuah kawasan militer. Dari jendela apartemen itu, terlihat lapangan tenis yang konon Presiden Bush sering bermain. Widodo menyiapkan sebuah kamar tidur untuk kami. Kamar itu sebenarnya milik Umar, 4 tahun, anak pertama Widodo. Ketahuan dari pernak-pernik dan mainan bocah itu yang ada dalam kamar. Setelah rehat sejenak, ngobrol dengan sahibul bait, makan siang disediakan oleh nyonya rumah.

Sore hari, kami mengunjungi tempat-tempat menarik yaitu kawasan sekitar White House dan Jefferson Memorial. Sebagai pelancong biasa tentu saja kami tak bisa memasuki halaman tempat kediaman orang nomor satu negara adidaya itu. Hanya boleh sampai di depan pintu pagar.

Di Jefferson Memorial bisa agak berlama-lama di senja yang gerimis itu. Prasasti yang terpasang dalam gedung peringatan memberikan sekelumit informasi tentang tokoh yang sangat dikagumi itu. Thomas Jefferson (1743-1826), Presiden Amerika Serikat yang ketiga (1801-1809) yang berlatar belakang pengacara itu memimpin perlawanan menentang kebijakan kolonial Inggris dan ia pula yang menyusun naskah The Declaration of Independence (1776). Jefferson juga menetapkan uang logam dengan sistem desimal sebagai satuan dasar dari dollar (1783-1784). Penyusun naskah asli Northwest Ordinance of 1787 itu bersimpati atas penyebab berkobarnya revolusi Perancis. Sebagai Menteri Luar Negeri (1790-1793) di bawah Presiden George Washington, ia menentang kebijakan keuangan Alexander Hamilton dan sebagai pemimpin dari kelompok antifederalis (Partai Republik) yang merupakan cikal bakal Partai Demokrat.

Hari kedua di DC. Sebuah pagi yang cerah menyilakan siapapun melakukan kegiatan. Kesempatan melanjutkan kunjungan ke obyek-obyek lain di DC harus dimanfaatkan. Kantor World Bank, International Monetary Fund (IMF) yang dibenci oleh sebagian masyarakat Indonesia, Federal Reserve (bank sentral AS) dan gedung Capitol adalah obyek kunjungan yang dapat saya lihat langsung.

Makan siang di sebuah restoran milik orang Turki tidak terlalu jauh dari apartemennya Widodo. Menu Timur Tengah adalah pilihan satu-satunya. Kembali ke apartemen. Sore, pukul 5.30 p.m. kami pamit dan berterima kasih ke Widodo dan isteri.

Berangkat dari Pentagon City dengan tujuan New York harus melewati Maryland, Pennsylvania, New Jersey, Baltimore dan Philadelphia. Gaung malam telah menyelimuti New York ketika Cherokee memasukinya. Alamat yang kami tuju adalah rumah Syamsi Ali, sahabat Aco. Alumnus Pesantren Gombara’ Kabupaten Maros itu berdomisili di 47th St. Astoria, Queen. Kebiasaan orang Bugis yang merasa punya kewajiban menyiediakan makan tamunya masih melekat di keluarga itu meskipun berdiam di Amerika. Menu yang biasa di lida kembali bisa dikecap. Selesai makan malam, ngobrol tentang kampung halaman, tentang kesibukan dai yang lagi kondang pasca tragedi 11 September 2001, hingga kantuk tak mau lagi diajak kompromi. Kami masuk tidur.

1 comment:

Barokah said...

Assalamu alaikum

Pak, ini Dodo (Barokah Widodo). Salam hormat dan kangen. Salam buat Aco, semoga sukses